Categories
Artchi Got Talent

Menuju Dunia Hijau: Membagikan Kesadaran Maritim Indonesia Dengan Komunitas Global

by Gennesaret Tjusila

Dalam artikelnya di majalah Science berjudul The Historical Roots of Our Ecological Crisis, sejarawan asal Amerika Serikat, Lynn White, menuliskan bahwa salah satu penyebab dari ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan, khususnya di dunia barat, adalah ideologi hasil ajaran agama Kristiani yang menempatkan manusia sebagai ciptaan yang paling tinggi diantara ciptaan lainnya. Ketidaksetaraan ini menyebabkan kecenderungan perilaku yang eksploitatif dalam hubungan manusia dengan ciptaan di sekitarnya. Walaupun pengaruh agama sudah mulai surut di dunia barat, kecenderungan eksploitatif ini menurut White masih sangat dominan. Alhasil, Lynn White menyimpulkan bahwa dalam menghadapi tantangan krisis ekologi, diperlukan paradigma baru untuk memahami hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sejak munculnya artikel diatas di tahun 1968, banyak usaha yang sudah ditempuh komunitas global untuk mengurangi dampak pemanasan global seperti deklarasi Paris Agreement dan European Green Deal. Namun terjadi juga banyak kemunduran dan kegagalan. Sebagai contoh: Amerika Serikat beberapa kali menarik diri dari Paris Agreement dan negara-negara Eropa yang masih jauh dari target reduksi emisi sebesar 55% di tahun 2030 dibanding tahun 1990. Usaha yang dilakukan untuk menangkal pemanasan global seringkali hanya berfokus pada cara menggunakan teknologi yang lebih bersahabat dengan lingkungan tapi sangat jarang mencoba untuk merubah paradigma hubungan manusia dengan lingkungannya.

Sebagai negara maritim, masyarakat Indonesia mengerti pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam, khususnya lautan. Disini penulis berpendapat ada ruang bagi masyarakat Indonesia untuk masuk ke dalam diskursus komunitas global. Masyarakat Indonesia secara turun-temurun memahami pentingnya hubungan manusia dengan alam. Nilai – nilai ini penulis rangkum dalam 3 kesadaran tentang lautan.

Kesadaran pertama adalah kesadaran tentang lautan sebuah realitas geografis. Indonesia terdiri dari lebih dari lebih dari 17,000 pulau, 6,3 juta kilometer persegi lautan dan memiliki panjang garis pantai lebih dari 99,000 kilometer. Fakta geografis ini membuat masyarakat

Indonesia menyebut negara mereka sebagai negara kepulauan (archipelago). Tidak hanya di dalam negeri namun dalam politik luar negeri juga, negara kepulauan menjadi salah satu bagian penting dari identitas Indonesia.

Perjuangan melawan pemanasan juga seharusnya dimulai dari sebuah kesadaran geografis bahwa bumi adalah tempat satu-satunya yang dapat manusia tinggali. Kesadaran tersebut membawa kita untuk mengingat bahwa walaupun manusia diciptakan sebagai ciptaan agung dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita mempunyai kewajiban untuk menjaga tempat tinggal kita.

Kesadaran kedua adalah kesadaran akan lautan sebagai salah satu medium pemersatu Indonesia. Masyarakat Indonesia mengenal kisah dari Sumpah Palapa dimana Patih Gajah Mada bersumpah untuk mempersatukan seluruh Nusantara. Nusantara dalam konteks sumpah tersebut merupakan rangkaian kepulauan yang sangat heterogen dengan begitu banyak suku, bangsa, maupun bahasa. Namun dalam visi Gajah Mada yang sampai sekarang diwariskan dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika” kepulauan nusantara yang beragam itu disatukan lautan yang membentangi seluruh kepulauan Indonesia.

Disaat artikel ini ditulis, dua perang besar sedang terjadi. Kesadaran kedua mengingatkan masyarakat global bahwa persatuan datang bukan dari kesamaan suku, bangsa maupun bahasa namun dari kesadaran bahwa kita semua merupakan sesama ciptaan dan menempati alam yang sama. Jiwa kemanusiaan tumbuh melalui kesadaran bahwa musuh kita juga adalah sesama manusia. Dalam konteks pemanasan global, perjuangan melawan pemanasan global harus didorong oleh kesadaran bahwa kita semua adalah penduduk bumi sehingga memiliki tanggung jawab untuk saling bahu membahu dalam menghadapi pemanasan global.

Kesadaran ketiga adalah kesadaran akan ketergantungan terhadap laut. Dalam lagu “Kolam Susu” band Koes Plus mengatakan bahwa Indonesia adalah tanah surga dikarenakan kesuburan tanahnya dan lautannya yang penuh dengan ikan. Masyarakat Indonesia memahami bahwa alam adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran akan posisi alam sebagai pemberi kehidupan direspon dengan rasa hormat masyarakat Indonesia pada alam.

Salah satu contoh dari kesadaran ini adalah budaya Sasi Laut yang dilakukan masyarakat Raja Ampat. Dalam budaya Sasi Laut, masyarakat melakukan ritual untuk meminta izin pada

Tuhan Yang Maha Esa untuk mengambil ikan dari laut ciptaannya. Dalam pemahaman mereka, karena mereka hanya dapat mengambil makhluk laut atas seizin Tuhan maka pengambilan hasil laut harus dilakukan secara hormat. Hal ini terwujud dalam praktik pengambilan hasil laut yang menjaga kelangsungan hidup dalam laut tersebut.

Kesadaran yang sama sering kali hilang dari masyarakat global dalam menghadapi masalah pemanasan global. Alam sering kali dilihat hanya sebagai komoditas ekonomi untuk dieksploitasi. Manusia hanya meminta bagian mereka dari alam namun lupa akan tanggung jawab mereka untuk menjaga alam. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sadar akan kenyataan bahwa apa yang ada di alam adalah hasil dari pemberian Tuhan yang maha esa sehingga perlu dijaga dan dilestarikan. Kesadaran ini patut untuk dibagikan dan dicontoh oleh negara lain.

Memang, pada akhirnya kondisi masyarakat Indonesia dan Eropa berbeda. Masyarakat Indonesia sebagai negara yang masih berkembang jauh lebih bergantung kepada alam daripada negara Eropa. Selain itu, kita juga tidak dapat lepas dari fakta geografis bahwa Indonesia memiliki jauh lebih banyak sumber daya alam dibanding Eropa. Dalam artikel ini kita melihat bahwa anugerah sumber daya alam yang dimiliki Indonesia berhasil membuat masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang peduli pada alam disekitarnya. Kontribusi kita sebagai pelajar di Eropa adalah untuk membagikan kesadaran ini dengan lingkungan kita melalui ide dan gagasan kita dalam ruang kelas. Kesadaran, akan peranan penting dari alam bagi bangsa kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *