ARTchi Got Talent

Welcome to Our

ARTchi Got Talent Gallery

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati serta kekayaan budaya yang berlimpah memancarkan keunikan dan pesona dari berbagai segi berkat keindahan alam dan nilai-nilai budayanya yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Dengan latar belakang tersebut, Artchi Got Talent mengangkat tema “Beauty to be Seen: in the Heart of Nusantara,” yang mengundang Anda menyelami dan mengeksplorasi “Apa makna Indonesia bagi Anda?”


Jawaban tentunya bisa beragam, entah oleh karena keindahan alam yang menakjubkan, keanekaragaman bentuk budaya tradisional, nilai-nilai luhur yang diwariskan dari zaman ke zaman ataupun unsur Indonesia yang membentuk dirimu sebagai dirimu yang sekarang. Namun apa makna Indonesia bagi Anda?


Kami berharap karya-karya ini juga dapat menjadi sarana untuk melestarikan warisan budaya Indonesia dan meningkatkan apresiasi terhadap nilai-nilai tradisional yang masih relevan hingga saat ini.


Digital Drawing

Annabelle-Thie_Belajar-Untuk-Melestarikan
Belajar untuk Melestarikan by Annabelle Thie

Makna dari ilustrasi narativ ini adalah bagaimana generasi muda Indonesia belajar membudidayakan budaya negeri kita sendiri. Di ilustrasi tersebut adalah 3 anak SMP yang sedang mengunjungi sebuah desa dimana mereka membantu warga membatik dan membuat kerupuk.

Saya memaknai tema dengan artian bahwa seiring jaman, masyarakat Indonesia tetap diajarkan budaya sehingga hasilnya adalah generasi sekarang yang bangga akan warisan nenek moyang kita.

Gambar ini terinspirasi dari kegiatan sekolah live-in dimana murid murid pergi ke sebuah desa dan tinggal bersama warga setempat.
For-Pleasure_Safura-Shalwa-Namida
For Pleasure by Safura Shalwa Namida

Beauty to be seen: in the heart of Nusantara

This thought has been running around on my mind for quite a while: how does everything that we, Indonesians, do always somehow have the artistic background for it? From the fabric that we wore to the food that we cooked and prepared for hours. And what for? How did we get the idea to do these ‘complicated’ things instead of just doing it for its basic purpose?

Then while I was doing my hobby, sewing, I realized how this batik fabric was once in the hands of pengerajin. People who took their time to sit for hours holding their canting while assuring the burning malam isn’t going to touch their hands. Or when I savor the delicious traditional foods at some Indonesian Kulturfest and admiring about how dedicated they must be, preparing all the uncommon ingredients while being in a foreign land.

And I think that this characteristic or habitude is influenced by our natural and cultural diversity. Its beauty is something that we get to be in contact with daily. It’s
what makes us, me, appreciate art so much that we choose pleasure over convenience. We are willing to take more time just…for the pleasure.
JauharPahlevi_The-Lost-Javanese-Princess
The Lost Javanese Princess by Jauhar Pahlevi

Not sure where to go, suddenly travelled from long time ago, she waits the train to bring her home.

Articles


Photographies

Charleen-Johnson_Manusia-Alam-dan-Indonesia
Manusia, Alam dan Indonesia by Charleen Johnson

Tidak banyak yang terjadi di balik foto hasil kamera analog ini. Saat itu, aku sedang menikmati liburan ku di Nusa Tenggara Timur, lebih tepatnya di Pulau Komodo. Kedatangan ku disambut oleh para bocah yang sedang bermain di sekitar area kapal berlabuh. “Wah, bocah-bocah ini, bahaya sekali kalau main disini“, batinku. Aku pun melanjutkan kegiatan ku, melihat-lihat indahnya pulau tersebut. Sampai suatu saat sang pemandu wisata menceletuk, “Di pulau ini banyak sekali anak-anak yang pernah diserang oleh komodo. Bahkan yang meninggal juga ada beberapa,“ katanya.

Aku terdiam. Mataku bergerak melihat sekeliling ku.

Ada seorang ibu yang sedang mengelap keringat anak nya,
ada anak-anak kecil yang berlari-larian,
ada bapak-bapak yang menawarkan suvenir jualannya kepada para wisatawan.

Tanpa sadar, tergambar senyum tipis di wajahku. Tenteram. Damai. Harmoni. Aku merasa.. lega. Saat itu juga aku menyadari suatu hal.

Inilah esensi yang sudah lama tidak kurasakan ketika hidup di kota Jakarta, yang begitu sibuk dan metropolis, yakni sebuah kehidupan yang saling berdampingan dengan alam, di mana manusia hidup dengan memanfaatkan alam, dan alam pun juga berjuang untuk bertahan hidup, terkadang dengan memanfaatkan manusia.

Pikiran ku kembali mengingat bocah-bocah yang bermain di pelabuhan kecil tadi. Mereka tahu akan marabahaya yang bisa saja menimpa mereka kapan pun dan di mana pun. Namun mereka tetap memilih untuk hidup dengan khali, tetap menghormati sekitarnya, alam maupun manusia.

Inilah makna Indonesia yang sesungguhnya. Keselarasan antara manusia dengan alam, dan juga manusia dengan manusia. Inilah yang membuat Indonesia.. menjadi “Indonesia”.
by Gamma Tjandra

Jarak yang memisahkan dari Indonesia sering kali menimbulkan kerinduan akan kekayaan budayanya. Salah satu aspek yang membuatnya begitu istimewa adalah nilai-nilai Gotong Royong yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitasnya. Gotong Royong, dengan semangat saling tolong-menolong, mewakili kekuatan persatuan dan kebersamaan yang mengakar kuat dalam jiwa masyarakat Indonesia.

Foto ini mencerminkan keindahan Gotong Royong yang sampai sekarang masih bisa dijumpai di Indonesia, diambil pada saat proses panen padi di Parung Kuda, Sukabumi.
Taman Hati & Nada by Maulana Amir Fawwaz

Gambar ini diambil dari momen pertunjukan gamelan jawa oleh Lindhu Raras Berlin dalam acara Heroes Day IISMA HU Berlin: Heroes of Modern Era (HOME).

Dinamakan “Taman Hati dan Nada” karena tatanan alat musik gamelan yang berjajar di panggung layaknya seperti taman, dimana orang-orang yang berada di sana memainkan nada yang nyaman didengar dan menyenangkan hati.
Ranah Minang by Suci Amallia Maulana
Afterlife by Yobel Irnawan

This photo was one one of the last image I took before going to Germany. It is a sulfur lake located in North Sulawesi. When I was framing the photo, the blue colors of the lake and the white tree contrasted with the muted greenery that was surrounding it. It was as if they were the liveliest, yet in reality there was no life inside of that lake because of the high acidity and temperature. And I was reminded of how the “afterlife” was a place for dead people, they live in heaven, yet they are already dead in reality.